Prosesi Pernikahan Adat Bali

Bali adalah salah satu daerah di Indonesia yang terkenal dengan keindahan alam dan kebudayaannya yang kaya. Salah satu tradisi budaya yang masih dilestarikan oleh masyarakat Bali adalah pernikahan adat Bali. Pernikahan adat Bali memiliki prosesi yang berbeda dengan adat suku lain di Indonesia, karena dipengaruhi oleh ajaran agama Hindu dan kitab Weda. Setiap prosesi pernikahan adat Bali memiliki makna dan tujuan yang sakral, yang diyakini akan membawa kebahagiaan bagi pasangan pengantin di dunia dan akhirat.

Indra Acha 22 Undangan Online einvite.id

Pernikahan adat Bali pada umumnya terdiri dari dua tahap utama, yaitu memadik (meminang) dan merangkat (ngerorod). Memadik adalah prosesi di mana orang tua calon pengantin laki-laki datang ke rumah calon pengantin perempuan untuk memperkenalkan diri dan menyatakan niatnya untuk menikahi putri mereka. Merangkat adalah prosesi di mana calon pengantin perempuan dijemput oleh calon pengantin laki-laki dan dibawa ke rumahnya untuk melangsungkan upacara pernikahan. Baik memadik maupun merangkat terdiri dari beberapa rangkaian upacara yang harus dilalui oleh kedua calon pengantin. Berikut ini adalah beberapa rangkaian upacara pernikahan adat Bali yang paling umum dilakukan.

Mesedek
Mesedek adalah acara pertama dalam prosesi memadik. Dalam upacara ini, orang tua calon pengantin laki-laki datang ke rumah calon pengantin perempuan dengan membawa sesajen dan hadiah sebagai bentuk perkenalan diri dan penghormatan. Orang tua calon pengantin laki-laki juga menyampaikan niatnya untuk menjadikan calon pengantin perempuan sebagai pendamping hidup anaknya. Upacara ini memiliki filosofi bahwa calon pengantin laki-laki sungguh-sungguh ingin membangun rumah tangga dengan calon pengantin perempuan. Upacara ini dianggap berhasil jika orang tua calon pengantin perempuan menyatakan setuju dan memberikan restu.

Medewasa Ayu
Medewasa Ayu adalah acara kedua dalam prosesi memadik. Dalam upacara ini, kedua keluarga calon pengantin membicarakan mengenai tanggal baik untuk melangsungkan pernikahan. Tanggal baik ini biasanya ditentukan berdasarkan perhitungan kalender Bali dan nasihat dari seorang pemimpin agama (Sulinggih). Masyarakat Bali percaya bahwa dengan menikah pada tanggal baik, pasangan pengantin akan mendapatkan keberkahan, kelancaran, dan keselamatan dalam menjalani kehidupan berumah tangga.

Ngekeb
Ngekeb adalah acara pertama dalam prosesi merangkat. Dalam upacara ini, calon pengantin perempuan dimandikan dan diluluri oleh ibu dan saudara perempuannya dengan menggunakan lulur khusus yang terbuat dari campuran daun merak, bunga kenanga, kunyit, dan beras yang telah dihaluskan. Luluran ini bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan tubuh calon pengantin perempuan sebelum menikah. Setelah proses luluran selesai, calon pengantin perempuan menunggu di dalam kamar pengantin sampai tiba saatnya dijemput oleh calon pengantin laki-laki.

Ngungkab Lawang
Ngungkab Lawang adalah acara kedua dalam prosesi merangkat. Dalam upacara ini, calon pengantin laki-laki datang ke rumah calon pengantin perempuan dengan membawa sesajen dan rombongan pengiring. Calon pengantin laki-laki harus melewati pintu gerbang rumah calon pengantin perempuan yang dijaga oleh saudara laki-lakinya. Untuk bisa masuk, calon pengantin laki-laki harus memberikan sesuatu yang bernilai kepada penjaga pintu, seperti uang, perhiasan, atau barang lainnya. Upacara ini memiliki makna bahwa calon pengantin laki-laki harus menghargai dan menghormati keluarga calon pengantin perempuan.

Medagang-dagangan
Medagang-dagangan adalah acara ketiga dalam prosesi merangkat. Dalam upacara ini, calon pengantin laki-laki bertemu dengan calon pengantin perempuan yang masih dikelilingi oleh selembar kain tipis berwarna kuning dari kepala hingga kaki. Kain ini melambangkan bahwa calon pengantin perempuan telah melepaskan masa lalunya dan siap untuk memulai kehidupan baru bersama calon pengantin laki-laki. Calon pengantin laki-laki harus membuka kain tersebut dengan cara menawar harganya kepada saudara perempuan calon pengantin perempuan. Upacara ini memiliki makna bahwa calon pengantin laki-laki harus menghargai dan menghormati calon pengantin perempuan sebagai pasangannya.

Makala-kala
Makala-kala adalah acara keempat dalam prosesi merangkat. Dalam upacara ini, calon pengantin laki-laki dan perempuan melakukan sembahyang bersama di pelinggih keluarga calon pengantin perempuan. Mereka memohon restu dan perlindungan dari Tuhan dan leluhur agar pernikahan mereka berjalan lancar dan harmonis. Upacara ini juga merupakan simbol bahwa calon pengantin perempuan telah resmi meninggalkan keluarganya dan bergabung dengan keluarga calon pengantin laki-laki.

Metegen-tegenan dan Suun-suunan
Metegen-tegenan dan Suun-suunan adalah acara kelima dalam prosesi merangkat. Dalam upacara ini, calon pengantin laki-laki dan perempuan berjalan keluar dari rumah calon pengantin perempuan dengan diiringi oleh rombongan pengiring. Mereka melewati pintu gerbang yang dihiasi dengan janur kuning dan bunga-bunga. Di depan pintu gerbang, mereka disambut oleh seorang Sulinggih yang akan memberikan mereka air suci untuk disiramkan ke kepala mereka. Upacara ini memiliki makna bahwa calon pengantin laki-laki dan perempuan telah disucikan dan siap untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah calon pengantin laki-laki.

Majauman
Majauman adalah acara keenam dalam prosesi merangkat. Dalam upacara ini, calon pengantin laki-laki dan perempuan berjalan menuju rumah calon pengantin laki-laki dengan diiringi oleh rombongan pengiring. Di sepanjang jalan, mereka akan melewati beberapa rintangan yang disiapkan oleh warga sekitar, seperti tali, bambu, atau kayu yang harus dilewati dengan cara melompat, merangkak, atau berjongkok. Upacara ini memiliki makna bahwa calon pengantin laki-laki dan perempuan harus siap menghadapi segala rintangan dan tantangan dalam kehidupan berumah tangga.

Mungkah Lawang
Mungkah Lawang adalah acara ketujuh dalam prosesi merangkat. Dalam upacara ini, calon pengantin laki-laki dan perempuan tiba di rumah calon pengantin laki-laki dan disambut oleh keluarga calon pengantin laki-laki. Mereka harus melewati pintu gerbang rumah calon pengantin laki-laki yang dijaga oleh saudara laki-lakinya. Untuk bisa masuk, calon pengantin perempuan harus memberikan sesuatu yang bernilai kepada penjaga pintu, seperti uang, perhiasan, atau barang lainnya. Upacara ini memiliki makna bahwa calon pengantin perempuan harus menghargai dan menghormati keluarga calon pengantin laki-laki.

Bagikan Arikel Ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email

Artikel Terkait

enliven

Buat Undangan Cepat, Revisi Sepuasnya Dengan Aplikasi dari Enliven.id